Monday, February 18, 2019

Kabita Squad Goes Ke Curug Badak

Tasikmalaya sebagian besar wilayahnya merupakan daerah perbukitan, khususnya di daerah timur Kabupaten, seperti Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan lainnya. Bukan itu saja, Tasikmalaya juga memiliki banyak air terjun atau curug dengan nama yang sama. Salah satu nama yang banyak dipakai beberapa air terjun atau curug di Tasikmalaya adalah Curug Badak. Curug yang masih perawan dan belum terlalu terjamah oleh pengunjung. Tidak jauh dari lokasi Curug Badak terdapat Curug Batu Hanoman. Kedua curug ini berada di kecamatan Cisayong tepatnya di kampung Setiamulya desa Sukasetia kabupaten Tasikmalaya.

Curug Badak




Komandan Kabita Squad



Curug Badak adalah tempat wisata yang baru ditemukan sekitar bulan Oktober 2016. Saat memasuki area ini, pengunjung akan disuguhi pemandangan yang sangat asri nan indah, serta udara sejuk dan bersih. Curug ini juga merupakan salah satu wisata alam yang membuat pengunjungnya semakin terkesan dengan tinggi dan derasnya air curug. Curug yang belakangan ini sedang popular dan digandrungi para traveller lokal, karena curug ini berada di kawasan wana wisata yang tertata baik. Tempat wisata murah meriah, mudah dijangkau dengan nuansa alam pegunungan dan hutan pinus yang masih asli, baru-baru ini sedang hits di media sosial. Dengan keberadaannya di dalam kawasan hutan pinus yang terletak di kaki Gunung Talaga Bodas, Curug ini sangat cocok untuk berwisata keluarga ataupun teman-teman.

Rute menuju Curug Badak dan Curug Batu Hanoman


Terdapat dua curug di kawasan kaki Gunung Talaga Bodas, yaitu Curug Badak dan Curug Batu Hanoman. Untuk menuju lokasi Curug Badak, pengunjung bisa melalui jalur Cisayong via jalan Cisinga (Ciawi Singaparna) ke arah Cigorowong, Ciherang atau melewati jalur Rajapolah, Sukahening ke arah Kiarajangkung dan Kudadepa, jalur ini merupakan jalur pendakian menuju gunung Talaga Bodas Garut dari Tasikmalaya.

Bagi pengunjung yang bermaksud datang ke tempat ini bisa menggunakan kendaraan pribadi, mengingat kondisi jalan menuju Curug Badak atau Curug Batu Hanoman sudah berupa aspal yang cukup baik sampai ujung jalan di lingkungan hutan pinus. Untuk kendaraan mobil tidak bisa terus ke lokasi wana wisata sehingga cukup parkir di hamparan rumput. Sedangkan motor bisa terus hingga lokasi yang tidak jauh lagi tetapi kondisi jalan sudah berupa jalan tanah.

Curug Badak

Untuk menikmati pemandangan air terjun setinggi 30 meter, dari tempat parkir pengunjung harus menempuhnya dengan berjalan kaki kurang lebih 250 meter ke Curug Batu Hanoman dan 400 meter ke Curug Badak. Jangan khawatir akan merasa bosan dan lelah saat berjalan, karena mata pengunjung akan dimanjakan dengan indahnya hutan pinus di atas ketinggian 1300 mdpl.

Pengunjung bisa menggelar tikar dan bersantai menikmati pemandangan di kawasan hutan pinus tersebut, atau melanjutkan perjalanan ke Curug Badak untuk sekadar berswafoto atau berbasah-basahan. Bagi pengunjung yang ingin bermalam dan mendirikan tenda, harus izin terlebih dahulu kepada pihak pengelola.

Untuk pengunjung yang lupa membawa bekal, tidak perlu khawatir, karena bisa meminta tolong kepada warga setempat untuk memasakkan makanan khas Sunda, seperti nasi liwet, ikan asin, sambal goang, dan menu menggugah selera lainnya.

Jalanan menuju ke Curug Badak benar-benar akan menguras tenaga. Hanya sedikit saja jalan yang datar, kemudian pengunjung akan langsung menuruni jalanan curam dan diselingi jalan berbentuk tangga, tentunya akan sangat melelahkan pada saat pulang.

Jika cuaca buruk, maka pengelola Curug Badak akan melarang pengunjung  untuk masuk ke area curug karena kontur jalannya yang sedikit licin dan curam. pengelola Curug Badak juga membatasi waktu kunjungan ke area curug.

Dengan banyaknya batuan licin, akan beresiko besar jika sampai terpeleset dan terantuk batu besar. Pengunjung dianjurkan untuk tidak bermain tepat di bawah pancuran Curug Badak, karena jatuhan airnya yang sangat deras bisa beresiko menimbulkan cedera.

Curug Badak mempunyai 2 aliran air terjun yang sangat deras, sehingga pengunjung sangat disarankan untuk tidak melewati pembatas. Penduduk setempat memberi nama Curug Kembar dengan ketinggian curug sekitar 30-40 meter yang salah satu sumber airnya berasal dari Curug Batu Hanoman. Curug dengan berbentuk kolam dan memiliki kedalaman hanya setengah meter, sehingga Curug Batu Hanoman sangat cocok jika dipakai untuk berenang.  Dengan mempunyai debit air terjunnya yang sedikit maka tidak heran meskipun musim hujan, air di Curug Batu Hanoman tidak deras seperti di curug-curug lainnya.

Aliran air yang keluar dari atas hingga ke bawah seperti buntut Hanoman, tokoh kera di dunia pewayangan, sehingga curug ini dinamakan Curug Batu Hanoman. Curug ini berada satu kawasan dengan Curug Badak Sukasetia, tepatnya berada di wilayah hutan milik Perhutani. Untuk pengelolaan tempat wisata ini, Perhutani bekerja sama dengan Pemerintah Desa setempat.

Jam Operasional Curug Badak


Buka mulai jam 8 pagi dan tutup jam 5 sore

Harga Tiket Masuk Curug Badak dan Parkir

Harga tiket masuk per orang, sebesar Rp5.000,

Ongkos parkir kendaraan roda 2, sebesar Rp2.000,

Ongkos parkir kendaraan roda 4, sebesar Rp5.000; dan

Biaya sewa tikar, sebesar Rp5.000.


Selamat berwisata!

Wednesday, February 13, 2019

Kabita Squad Goes Ke Puncak Pelita





Puncak Pelita adalah kawasan perbukitan yang telah masuk wilayah Ciawi, Kabupaten Tasikmalaya. Banyaknya potensi wisata yang belum tergali di Bumi Sukapura diakui Mojang Wakil 1 Duta Wisata Kabupaten Tasikmalaya.

Tonton Video nya di sini 

“Hamparan pesawahan di daerah Sukahening dan Sukaratu pun menjadi salah satu daerah yang sangat memanjakan mata. Keindahan alam hijau serta udara yang sejuk tentu menjadi obat bagi kita yang jenuh dengan kegiatan sehari-hari,”Kabita Squad

Akan tetapi, lanjutnya, keindahan wisata yang ada belum semuanya dapat dinikmati. Pasalnya, sejumlah lokas wisata itu belum tersentuh pemerintah guna dikembangkan. Salah satu persoalannya adalah sulitnya akses menuju tempat wisata.

“Jika kondisi infrastruktur dan fasilitas penunjang lainya telah ada, hal ini dapat mendukung tumbuhnya sektor pariwisata,” ujar mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia itu.

KABITA SQUAD mencontohkan pula keberadaan curug atau air terjun yang begitu banyak di Kabupaten Tasikmalaya. Lagi-lagi permasalahan akses menuju lokasi yang sukar terjangkau menjadi kendala pengembangannya.

Matahari semakin menghilang di Kiarajangkung menjelang Magrib. Kabut-kabut mulai turun dari perbukitan. Pemandangan pesawahan malah tambah cantik seakan permadani di negeri kahyangan. Tanah berlumpur yang diberkahi kesuburan di Bumi Sukapura itu mulai terguyur gerimis yang lirih dan sepi.

Friday, February 1, 2019

Kabita Squad Goes Ke Jembatan Cirahong

Jembatan Cirahong adalah yang sebuah jembatan menghubungkan Kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya dengan Desa Panyingkiran Kecamatan Ciamis.

Jembatan yang melintas di atas Sungai Citanduy ini mempunyai nomor register BH 1290 dan terletak di sebelah timur Stasiun Manonjaya Daerah Operasi 2 Bandung.



Jembatan Cirahong memiliki panjang 202 meter. Dibangun pada tahun 1893 dengan menggunakan konstruksi baja yang rapat dan kokoh. Konstruksinya pernah diperkuat pada tahun 1934.

Berikut fakta-fakta mengenai jembatan yang sudah berumur lebih dari 100 tahun ini:

DUA FUNGSI JEMBATAN CIRAHONG

Jembatan ini unik karena memiliki 2 fungsi. Bagian atas jembatan berfungsi untuk lalu lintas kereta api, sedangkan bagian bawah jembatan berfungsi untuk lalu lintas kendaraan mobil dan motor termasuk pejalan kaki.

Jembatan ini merupakan jalur alternatif dari Tasikmalaya menuju Ciamis lewat Manonjaya dan sebaliknya, dan merupakan satu-satunya jembatan peninggalan Belanda di Kabupaten Ciamis.



Tidak ada angkutan umum resmi yang melewati jalur itu. Kendaraan melintas umumnya merupakan angkutan pribadi.






Perbaikan Jembata Cirahong pada Jaman Belanda
Karena lebar badan jembatan hanya cukup untuk satu mobil, kendaraan yang melintas harus bergantian.  Biasanya di kedua ujung pintu jembatan, ada beberapa pemuda yang bertugas untuk mengatur lalu lintas.

Pemuda dari daerah Manonjaya, mengatur arus masuk kendaraan dari pintu jembatan sebelah selatan atau pintu dari Manonjaya. Sedang pemuda Ciamis mengatur arus dari arah utara. Mereka bergantian berjaga selama 24 jam.

Para petugas tersebut mendapatkan upah alakadarnya dari sopir atau warga yang melintas di jembatan.

SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN CIRAHONG

Pembangunan Jembatan Cirahong tidak terlepas dari peran R.A.A. Kusumadiningrat atau Kangjeng Prebu, Bupati Galuh Ciamis tahun 1839 – 1886.
Kangjeng Prebu

Kala itu Pemerintah Kolonial Belanda sedang membangun jalan kereta api jalur selatan yang melewati Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Banjar selanjutnya nyambung ke Jawa Tengah.

Pembangunan jalur kereta api tersebut, selain untuk angkutan massal, juga untuk mengangkut hasil bumi dari Priangan, seperti kapas, kopi, kapol, dan lainnya ke Jakarta.

Saat itu banyak perkebunan baru dibangun di daerah Galuh, seperti perkebunan Lemah Neundeut, Bangkelung dan lain-lain. Angkutan kereta diharapkan akan mempermudah jalur angkutan barang maupun mobilisasi penduduk.

Foto Jembatan Cirahong Tempo Dulu
Sebenarnya, awalnya jembatan ini tidak direncanakan dibangun.  Dari gambar rencana yang dibuat pemerintah kolonial Belanda, jalur kereta api dari Tasikmalaya tidak melewati kota Ciamis.

Tetapi mengambil jalur ke Cimaragas atau sebelah selatan Sungai Citanduy. Setelah itu masuk kota Banjar dan seterusnya jalur terbagi menjadi dua yaitu jalur yang menuju ke Pangandaran dan yang ke Cilacap Jawa Tengah.

Pertimbangannya, apabila melintas ke Kota Ciamis maka Pemerintah Belanda harus membangun dua jembatan melewati Sungai Citanduy. Tentu saja akan memakan biaya yang sangat mahal.

Informasi tersebut akhirnya sampai ke telinga Kangjeng Prebu, yang saat itu sudah pensiun dari jabatan Bupati.  Kangjeng Prabu yang masih memiliki pengaruh ke pemerintah kolonial, kemudian melobi Belanda agar jalur rel kereta yang dibangun tersebut melintasi Kota Ciamis.


Kabita Squad Goes Ke Curug Badak

Tasikmalaya sebagian besar wilayahnya merupakan daerah perbukitan, khususnya di daerah timur Kabupaten, seperti Gunung Galunggung, Gunu...